Senin, 31 Agustus 2015

Waktu Yang Akan Mengakhirinya.....



Waktu…… itulah yang terfikir oleh anak umur 18 tahun ketika ingin menginjak ke tanah rantauannya.

Waktu…. “Ya waktu” tertekan kembali didalam hatinya mengenai waktu.

Ruang yang hampa dan kosong ketika sebuah burung berbentuk teknologi  ingin pergi jauh ketempat dimana seorang anak 18 tahun itu akan membawakannya kepada sebuah perubahan.
Tepat tanggal 23 Desember 2013 seorang anak menginjakan kakinya ketempat dimana ia akan melamunkan dirinya akan menjadi apa, dan seperti apa ia akan berkembang selama beberapa tahun. Saat itu waktu menunjukan, belum saatnya ia berteman.

“Waktu… waktu dan waktu…” hatinya bergumam lagi."

“waktulah yang akan membawaku kepada kehidupan yang baru."

Saat itu hari pertama penerimaan mahasiswa baru. Layaknya Mahasiswa lain, duduk manis seperti orang bodoh yang tak mengenal apa-apa. Bodoh? Ya bodoh. Mengapa bodoh? Bodoh duduk terpampang, bodoh tak punya kawan, bodoh karna mempunyai wawasan yang sempit.

“Waktu…. Waktu dan waktu…  sepertinya waktulah yang ingin aku mengahampirinya”
Pria itu pun sadar bahwa ia merupakan mahasiswa baru yang jauh dari pulau jawa, sebrang!! Dengan sehilir kawan pun belum ada. Ia hanya berfikir waktu itu yang akan membawanya kepada keramaian. Waktu itulah yang akan membawa kepada sebuah kecerahan. Cerah akan berbagai hal.

“Kak kalo acara seperti ini penting gak sih aktif?”

“Semua penting dik..”

“maksudnya?” Tanya pria itu, sambil dengan muka begonya yang tak terhingga.

“kamu liat saja lusa besok?”

Penantiannya pun tak tertahankan menunggu hari yang ditunjukan oleh senior tersebut.
Dua hari setelah pertanyaan tersebut terlewatkan. Pria itu menambah bingung. Apa asiknya acara seperti ini. Sama saja dengan hari-hari yang dilaluinya. Duduk manis, mendengarkan celotehan yang tak begitu penting, hanya dipandang sebagai formalitas semata, seakan euphoria dalam kata yang tak asing tuk didengar “ospek” sama sekali tak menantang.

Beberapa menit kemudian…
 “semua baris…”

 teriakan keras menjelma dipenjuru telanga maba.

Rasakan apa yang kalian rasakan? Takut, merinding disko, dada cenat-cenut, burung bergoyang-goyang, seluruh bulu berdiri dari atas sampai bawah. Dari yang lurus,  makin tegang. Dari yang keriting menjadi lebih kering.

Masuklah kelas pria itu dengan tampang menantang, ingin mencari masalah seakan berani akan hal ospek. Pada kenyataanya sedikit demi sedikit air kencing tak sengaja membasahi kolor baru stock persediaan kosan. 


“acara apaan dah ini? Dengerin materi lagi?” Tanya pria itu kepada senior.

“gayamu dek-dek…” jawab cetus sang senior.

Beberapa menit kemudian, setelah seluruh mahasiswa masuk kelas. Semua duduk rapih. Jadi setiap kelas terdiri dari 80 orang mahasiswa baru saat itu.

Senior pun lalu berdiri,dan mereka pun…

“Hayyyyyyyy… kenalkan nama aku  luluk,” dengan memperkenalkan cara dansa layaknya Cinderella yang sedang menari disinggah sana oleh sang pangeran.

“saya agung..” kakak ini tinggi, kurus, tegap layaknya orang pramuka. Tapi ngapak abeeeessss…..

“Saya Kevin” kakak satu ini gendut, kurus, dan menggemaskan.

“Saya dian..” kakak ini lembut, seperti putri salju.

Pria itupun kaget, mengapa acara ini seolah jadi seperti acara Stand Up Comedy! Ternyata acara satu ini berbeda dari acara lainnnya. Acara itu merupakan acara pendidikan karakter bagi mahasiswa baru. Dimana acara tersebut merupakan acara yang diperuntungkan bagi maba untuk menumbuhkan jiwa Mahasiwa. Untuk saat kita kuliah, sampai dengan kita lulus kuliah.

Pria itu terus tertawa tampa henti. Dan dapat dikatakan pria itu ketawa paling keras ketika kakak senior sedang menjelaskan materi, dan perkenalan.
“Sekarang waktunya kalian yang memperkanalkan dirinya…”
Pria itu kembali terfikirkan mengenai waktu.
“Waktu….. waktu inilah sekarang yang tepat.”
Pria itu pun maju. Berjalan layaknya pria tak berdosa. Tangan kanan memasuki kekantung celana, entah apa maksudnya. Lalu ia pun menghadap ketemannya. Muka tak seberapa ganteng, masih bersih tak ternodai oleh apapun.

“sebentar….” Pria itu berbicara sambil menegakkan tangan kirinya seolah ia ingin bernyanyi dewi persik ‘stop kau mencuri hatiku’, tetapi tangan kanan masih tetap dikantung celana. Pelan-pelan ia mengeluarkan sebuah……….. sisir!!!!! Lalu ia menyisir rambutnya ditengah sekumpulan mahasiswa baru yang lain. Semua mata tertuju kepada pria itu. Dan pada akhirnya semua mahasiswa terbengong-bengong. Dalam hatinya seakan ia merasa dirinya tak jelas. Bahkan ia berfikir maba-maba yang meliatnya. Didalam hati mereka berfikir untuk pulang, kekamar mandi lansung bunuh diri melihat pria itu melakukan hal aneh tersebut. Atau bahkan mungkin mereka butuh plastic untuk memuntahkan segala keenekan yang ada didalam perutnya.
Tapi pada kenyataanyaaaa……..

“HAHAHAHAHAHAHA” semua maba tertawa…..

“ANJIIIIIIRRRRRRR!!!!”

“FUCKKKKK!!”

Ada yang tertawa sampe tidur-tiduran. Ada yang tertawa sampe ences keluar. Ada yang tertawa sampe peluk-pelukan. Ada tertawa yang sampe cium-ciuman. Bahkan ada wanita gendut tertawa sampe behanya mau lepas!

Dari situ waktu  berbicara mengenai harus seperti apa ia melakukan sesuatu. Melakukan hal seperti apa yang ia harus lakukan. Dan melakukan apa yang seharusnya ia pertahankan.

“Perkenalkan nama saya……… Alfi feryando. Umur 18 tahun”

“yang bener?” Tanya seorang ibu-ibu. Cantik, tak keliatan sama sekali tua, baik hatinya.

“Bener Bu. 18 tahun,”

“Yo lanjutttt…..”

“Asal Bandar Lampung, cita-cita Notaris.”

Semua audience tepuk tangan meriah. Sampai ia duduk ia terus dipukul-pukuli oleh maba-maba lainnya. Sambil mengatakan, “gila lo!” “anjrit lo!” “asu lo!” dari situlah ia merasakan sebuah kehangatan teman-teman baru hasil kerja kerasnya mempertanyakan waktu yang tepat manakah untuk menemukan jawaban yang ia bingungkan selama ini. PRIA ITU HANYA MEMBUTUHKAN SEORANG TEMAN. YANG KELAK AKAN MENEMANINYA SAMPAI KEUJUNG PENGHUBUNG AKHIR MASA PERANTUANNYA.

Pria itupun mempelajari satu hal, bahwa ketika kalian perantuan atau bukan. Kalian hanya membutuhkan keluarga, walaupun keluarga itu sekecil apapun bentuknya. Tapi ketepatan cinta, ketepatan hatilah  yang siap mendengarkan keluh kesah kalian. Keluh kesah ketika miskin, keluh kesah ketika butuh sabun mandi, keluh kesah untuk memberikan tumpangan tidur ketika belum bayar kos, sampai dengan keluh kesah bersedia memberikan fotocopyan ketika kita sedang dalam kondisi mager dikamar.
Waktu seakan menemani pria itu terus menerus dalam perjalanan mengekalkan arti sebuah kekeluargaan. Mencoba mempererat kembali sebuah keluarga baru, yang harus bisa diteruskan oleh adik-adiknya.

2014 merupakan tahun kedua ia meneruskan arti sebuah keluarga. Ia tularkan tingkah perlakuan yang pernah dilakukan oleh seniornya saat itu. Dalam pendiriannya hanya ada 1 visi. “Jangan pernah saya membuat adik saya seakan bosan dengan hari-harinya. Selelah-lelahnya saya. Saya akan membahagiakan mereka. Apapun caranya!”
2 tahun kemudian. Ia semakin menuju kepada penuaan, menuju kepada kata yang tak bisa ia pungkiri, “Kapan lulus..” Namun dengan teguh ia tetap harus mencari regenerasi penerus keluarganya. Untuk semakin besar dan semakin besar. Pria itu mempertaruhkan dirinya untuk mengabdi kepada keluarga yang tadinya kecil, yang telah ia bentuk menjadi keluarga besar sampai dengan sekarang. Tahun 2015 pun pria itu kembali lagi ditengah sebuah lingkaran besar. Lingkaran besar DEMOKRASI.   

Visinya pun kali ini berbeda dengan visi ditahun angkatan kedua , pria itu hanya berkata diakhir tahunnya “Saya hanya ingin meninggalkan setitik air mata terakhir saya, saya hanya ingin memberikan sebuah kenangan terindah yang saya punyai. Seberapa besarkah arti keluarga baginya. Warisan yang bisa saya tinggalkan hanya kekompakan. Selebihnya kalianlah yang akan mempertahankan, bahkan bisa menambahkan arti kekeluargaan tersebut. Perjuangkanlah setetes keringat yang kalian punya wahai adik-adikku tersayang.”

“Ketika waktu mengakhirnya…. Bukan berarti waktu akan memisahkannya…
Ketika waktu ingin mengakhirnya, janganlah terpancing akan godannya…
Ketika waktu ingin mengakhirnya, lawanlah. Karna ada yang perlu kita perjuangkan untuk mempertahankannya.
Ketika waktu seakan sudah bosan untuk meliat perjuangan kita,
Maka KUATkanlah, jiwa-jiwa yang sudah tercerahkan oleh bias KEKELUARGAAN!”
Alfi Feryando- 31 Agustus 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar