Pria itu terus tertawa tampa henti. Dan dapat dikatakan pria
itu ketawa paling keras ketika kakak senior sedang menjelaskan materi, dan
perkenalan.
“Sekarang waktunya kalian yang memperkanalkan dirinya…”
Pria itu kembali terfikirkan mengenai waktu.
“Waktu….. waktu inilah sekarang yang tepat.”
Pria itu pun maju. Berjalan layaknya pria tak berdosa. Tangan
kanan memasuki kekantung celana, entah apa maksudnya. Lalu ia pun menghadap
ketemannya. Muka tak seberapa ganteng, masih bersih tak ternodai oleh apapun.
“sebentar….” Pria itu berbicara sambil menegakkan tangan
kirinya seolah ia ingin bernyanyi dewi persik ‘stop kau mencuri hatiku’, tetapi
tangan kanan masih tetap dikantung celana. Pelan-pelan ia mengeluarkan sebuah………..
sisir!!!!! Lalu ia menyisir rambutnya ditengah sekumpulan mahasiswa baru yang
lain. Semua mata tertuju kepada pria itu. Dan pada akhirnya semua mahasiswa
terbengong-bengong. Dalam hatinya seakan ia merasa dirinya tak jelas. Bahkan ia
berfikir maba-maba yang meliatnya. Didalam hati mereka berfikir untuk pulang,
kekamar mandi lansung bunuh diri melihat pria itu melakukan hal aneh tersebut. Atau
bahkan mungkin mereka butuh plastic untuk memuntahkan segala keenekan yang ada
didalam perutnya.
Tapi pada kenyataanyaaaa……..
“HAHAHAHAHAHAHA” semua maba tertawa…..
“ANJIIIIIIRRRRRRR!!!!”
“FUCKKKKK!!”
Ada yang tertawa sampe tidur-tiduran. Ada yang tertawa sampe
ences keluar. Ada yang tertawa sampe peluk-pelukan. Ada tertawa yang sampe
cium-ciuman. Bahkan ada wanita gendut tertawa sampe behanya mau lepas!
Dari situ waktu
berbicara mengenai harus seperti apa ia melakukan sesuatu. Melakukan hal
seperti apa yang ia harus lakukan. Dan melakukan apa yang seharusnya ia
pertahankan.
“Perkenalkan nama saya……… Alfi feryando. Umur 18 tahun”
“yang bener?” Tanya seorang ibu-ibu. Cantik, tak keliatan
sama sekali tua, baik hatinya.
“Bener Bu. 18 tahun,”
“Yo lanjutttt…..”
“Asal Bandar Lampung, cita-cita Notaris.”
Semua audience tepuk
tangan meriah. Sampai ia duduk ia terus dipukul-pukuli oleh maba-maba lainnya. Sambil
mengatakan, “gila lo!” “anjrit lo!” “asu lo!” dari situlah ia merasakan sebuah
kehangatan teman-teman baru hasil kerja kerasnya mempertanyakan waktu yang
tepat manakah untuk menemukan jawaban yang ia bingungkan selama ini. PRIA ITU
HANYA MEMBUTUHKAN SEORANG TEMAN. YANG KELAK AKAN MENEMANINYA SAMPAI KEUJUNG
PENGHUBUNG AKHIR MASA PERANTUANNYA.
Pria itupun mempelajari satu hal, bahwa ketika kalian
perantuan atau bukan. Kalian hanya membutuhkan keluarga, walaupun keluarga itu
sekecil apapun bentuknya. Tapi ketepatan cinta, ketepatan hatilah yang siap mendengarkan keluh kesah kalian. Keluh
kesah ketika miskin, keluh kesah ketika butuh sabun mandi, keluh kesah untuk
memberikan tumpangan tidur ketika belum bayar kos, sampai dengan keluh kesah
bersedia memberikan fotocopyan ketika kita sedang dalam kondisi mager dikamar.
Waktu seakan menemani pria itu terus menerus dalam
perjalanan mengekalkan arti sebuah kekeluargaan. Mencoba mempererat kembali
sebuah keluarga baru, yang harus bisa diteruskan oleh adik-adiknya.
2014 merupakan tahun kedua ia meneruskan arti sebuah
keluarga. Ia tularkan tingkah perlakuan yang pernah dilakukan oleh seniornya
saat itu. Dalam pendiriannya hanya ada 1 visi. “Jangan pernah saya membuat adik
saya seakan bosan dengan hari-harinya. Selelah-lelahnya saya. Saya akan
membahagiakan mereka. Apapun caranya!”
2 tahun kemudian. Ia semakin menuju kepada penuaan, menuju
kepada kata yang tak bisa ia pungkiri, “Kapan lulus..” Namun dengan teguh ia
tetap harus mencari regenerasi penerus
keluarganya. Untuk semakin besar dan semakin besar. Pria itu mempertaruhkan
dirinya untuk mengabdi kepada keluarga yang tadinya kecil, yang telah ia bentuk
menjadi keluarga besar sampai dengan sekarang. Tahun 2015 pun pria itu kembali
lagi ditengah sebuah lingkaran besar. Lingkaran besar DEMOKRASI.
Visinya pun kali ini berbeda dengan visi ditahun angkatan
kedua , pria itu hanya berkata diakhir tahunnya “Saya hanya ingin meninggalkan
setitik air mata terakhir saya, saya hanya ingin memberikan sebuah kenangan
terindah yang saya punyai. Seberapa besarkah arti keluarga baginya. Warisan yang
bisa saya tinggalkan hanya kekompakan. Selebihnya kalianlah yang akan
mempertahankan, bahkan bisa menambahkan arti kekeluargaan tersebut. Perjuangkanlah
setetes keringat yang kalian punya wahai adik-adikku tersayang.”
“Ketika waktu mengakhirnya…. Bukan
berarti waktu akan memisahkannya…
Ketika waktu ingin mengakhirnya,
janganlah terpancing akan godannya…
Ketika waktu ingin mengakhirnya,
lawanlah. Karna ada yang perlu kita perjuangkan untuk mempertahankannya.
Ketika waktu seakan sudah bosan
untuk meliat perjuangan kita,
Maka KUATkanlah, jiwa-jiwa yang
sudah tercerahkan oleh bias KEKELUARGAAN!”
Alfi Feryando- 31 Agustus 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar