Sabtu, 08 Desember 2012

Secangkir Teh Hangat, Dibalik Hujan

Hari ini mengingatkan gue kepada masa lalu. Dimana gue harus terperangkap didalam kurungan penjara rumah. Gue menganggap gue tak akan pernah bisa senang-senang dibalik sebuah rintihan hujan. 'Kalian tahu kenapa?' karena gue tidak pernah boleh untuk main hujan-hujanan saat masih kecil.

Ninik. Ia adalah seorang yang sangat berjasa sekali dalam kehidupan gue saat masih kecil. Ninik adalah sebutan untuk nenek gue. Ialah yang mengurus gue pada saat kecil dulu. Dimana pada saat orang tua gue sedang bekerja. Gue selalu dititipkan olehnya. Ninik gue adalah orang yang over protective banget soal, gue dalam bermain.
 Ini adalah peraturan yang pernah dibuat oleh Ninik gue, pada saat gue masih kecil:
  1. Gue nggak boleh main, kalo nggak pake sendal. (Saat itu memang temen-temen gue jarang banget pada pake sendal. Akhirnya, karena gue nggak nurut, alhasil kaki gue kena beling pada saat sedang main petak umpet.)
  2. Gue harus tidur saat pulang sekolah. (Saat itu gue pernah pura-pura tidur. Dan pada saat nenek gue nemenin gue tidur, gue terbangun, dan lansung kabur dari rumah. Naek pager. Gue jatoh. Alhasil kaki gue luka-luka.)
  3. Gue nggak boleh lari kenceng-keceng. Gue dulu adalah anak yang nggak sabaran kalo mau dibeliin sesuatu. Hingga, suatu saat. Gue mau dibeliin coca-cola. Nenek gue udah ingetin ke gue untuk nggak lari-lari kalo jalan lagi licin. Alhasil pala gue jatoh, dan pala gue nancem batu. (Gila sumpah itu sakit banget pasti. Walaupun gue nggak tau, dan lupa apa yang gue rasain pas gue kecil dulu. Soalnya gue masih 5 tahun, man!)
'Dari semua yang pernah gue alamin itu. Itu adalah teguran buat gue. Coba ajah pada saat gue masih kecil, gue nggak bandel. Pasti gedenya gue nggak kaya gini sekarang. *eh'

Ada beberpa hal juga yang pernah gue inget dari beberapa pengalaman gue saat hujan datang. Gue emang paling nggak suka dengan hujan. Karena dengan kena ujan lebet ajah. Gue bisa sakit. Akhirnya, dengan gaya seolah menantung maut dibalik hujan. Gue keluar rumah dan lari menuju, Mesjid, deket rumah gue. Karena lantai licin, gue dengan teman-teman ngesot-ngesot dilantai mesjid tersebut. Seolah-olah gue dan kawan-kawan nyetak goal dalam sebuah pertandingan sepak bola . Dengan lucuran yang sangat keren, dan gaya tindih menindih kebadan. Gue pun paling kena siksa. Karena gue paling bahwa saat itu. Setalah mereka semua udah pada bangun. Alhasil, gue terlentang dengan indahnya menahan kesakitan.

Disini gue, merasakan indahnya masa lalu. Dibalik hujan, dan disajikan secangkir teh hangat. Mengingat dan mengupas kecerobohan masa lalu gue saat sedang turun hujan. Memang sungguh, cerita lama tak akan pernah pudar dari pikiran kita. Begitu banyak moment yang kita pernah lakukan pada saat kecil. Dan moment itu adalah sebagian BAB dalam kehidupan kita.

Dan sekarang, semakin bertambahnya umur. Kita terkadang kesal apabila hujan turun datang. Padahal, apabila kita mengingat kembali masa kecil kita dulu. Kita selalu menantikan hujan datang. Dan lari sekencang-kencangnya bersama teman untuk main hujan-hujanan. Hidup itu seperti hujan, tak bisa ditebak kapan ia datang. Namun, apabila awan gelap  sudah mulai terlihat. Kita mulai tahu kapan hujan itu datang. Inilah hidup, kita tak pernah tahu kita akan seperti apa dihari kelak. Tapi, apabila kita mengetahui sebuah keinginan dan bayangan kita hidup untuk apa. Kita akan mengetahui, sosok seperti apakah diri kita.

Kenangan dulu memang begitu indah. Dibalik secangkir teh hangat inilah. Gue akan terus mengingat, ketika hujan akan datang turun. Dan membuka jendela selebar-lebarnya. Untuk tidak akan pernah melupakan sebuah kenangan yang begitu membahagiakan dalam hidup ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar